LAHN: Belajar dari Pengalaman Minder Membaca Al-Qur’an

“LAHN”

Karya Annies Arbiana Ikhwati
Wali dari Luqman Janapriya

“Mbak anis, kene mlebu omah, ayo melu kataman, aja mek ngeterne bu Toha thok”, ibu ibu banyak yang mengajak aku untuk ikut rutinan kataman. Ajakan ini semenjak tahun 2021 ketika penglihatan emak mulai menurun karena terkena glaukoma. Saya hanya rutin mengantar emak berangkat rutinan kataman setiap hari Jumat. September 2025 emak terjatuh terpeleset karena lantai rumah licin kena kutahan air kolak. Yang menyebabkan anggota paha kaki ada yang pecah, sehingga harus di operasi. Dan semenjak itu hingga sekarang, emak tidak ikut rutinan kataman karena kondisi kaki dan badan yang tidak memungkinkan.

“Mbak Anis, sampean ae sing melu rutinan kataman, nggenteni bu Toha”. Ibu ibu mengajakku untuk ikut rutinan kataman. Saya hanya menjawab dengan senyum termanisku.
Tidak pernah aku jelaskan, perihal sebab musabab kenapa saya diajak rutinan belum mau, mulai dulu hingga sekarang.
Sebenarnya ada alasan yang mendasari kenapa saya belum ikut rutinan kataman.
Ada sejarah yang menyertai.

Sekitar tahun 2008, Alhamdulillah Allah SWT memberikan kesempatan padaku untuk belajar tentang ilmu membaca Al-Qur’an. Dan di tahun sekitar 2010 sebelum kelahiran si bungsu, saya pernah ikut emak hadir di rutinan kataman. Nah, sebelum acara dimulai, masing-masing anggota mengambil mushaf Al-Qur’an per juz. Ada yang mengambil satu, ada yang mengambil dua. Entah karena kemampuan ku yang rendah, sehingga tidak bisa cepat, ataukah karena ada ibu yang memang kemampuan bacanya bagus, sehingga bisa membaca Al-Qur’an dengan cepat. Ada perbedaan yang mencolok. Ada sebagian ibu ibu yang sudah baca dua juz lanjut ngobrol. Dan itu sangat menggangu konsentrasi saya dalam membaca Al-Qur’an. Sementara saya, satu juz saja masih kurang dua lembar. Dan sebab inilah saya menjadi minder, malu, karena kalah jauh saat membaca Al-Qur’an, serta takut jika bacaan saya kurang sesuai kaidah tajwidnya.
Dalam pendengaran saya, ketika ibu yang bisa dua juz, membaca dengan cepat, dengungnya hukum tajwid, dan panjangnya hukum mad, tidak sesuai proporsi ilmu tajwid. Ya Allah, ampuni saya, jika ternyata pendengaran saya yang keliru.

Qodarulah, kemarin siang ada reel lewat beranda FB (emak katrok, hanya bisa buka FB, tidak bisa buka ig, tiktok, tidak bisa juga memasukkan barang ke keranjang sope). Ada seseembak cantik berkacamata, memakai jilbab warna burgundi menjelaskan tentang kesalahan dalam membaca Al-Qur’an.
Chairunnisa Has, nama akunnya. Beliau menjelaskan tentang LAHN. Alhamdulillah karena reel ini, saya menjadi tahu tentang istilah lahn.

LAHN adalah kesalahan ketika membaca Al-Qur’an. Lahn secara bahasa adalah menyimpang dari kebenaran. Menurut Ibnu Al Jazari, lahn terbagi menjadi dua, yaitu lahn jali dan lahn khafi.
Lahn jali adalah kesalahan fatal dalam pengucapan yang menyalahi kaidah sehingga merusak atau mengubah arti ayat.
Contoh, kalimat di Al Qur’an surat Al A’rof ayat 86. Tertulis fakatstsarokum, namun dibaca fakassarokum. Seharusnya memakai huruf tsaث, tetapi dibaca menjadi huruf sin س. Sehingga merubah arti. Seharusnya dibaca huruf ث tetapi dibaca huruf sin. Seharusnya memiliki makna, ” maka Dia memperbanyak jumlah kalian”: tetapi karena itu dibaca huruf sin, memiliki arti yang berbeda. Yakni menjadi ‘ maka Dia menghancurkan kalian”.

Lahn khafi adalah kesalahan dalam menerapkan hukum tajwid yang sifatnya tersembunyi, tetapi biasanya tidak sampai mengubah arti kata, misal:
1. Salah panjang pendek. Misalnya seharusnya dibaca mad lazim dengan panjang bacaan 6 harokat, namun hanya dibaca panjang 2 harokat.
2. Kurang dengung saat bacaan gunnnah, padahal nun tasdid dan mim tasdid harusnya dibaca dengung, akan tetapi tidak dibaca dengung.
3. Tertukar hukum bacaan. Seharusnya dibaca ikhfa hakiki namun dibaca idzhar halqi
4. Harusnya dibaca mad tobii, namun dibaca pendek.
5. Menambah qolqolah pada huruf yang bukan qolqolah. Hal ini biasanya pada huruf ذ ظ غ ض yang berharokat sukun.

Dalam penjelasan di buku pintar Gugel, membaca dengan lahn, bisa berdosa atau tidak tergantung pada jenis kesalahan baca.
Namun jangan sampai ada pemikiran ” aku nggak baca Alquran, takut salah, nanti salah baca ، aku berdosa”.
Kalau ada pemikiran seperti itu, malah salahnya dobel. Yaitu tidak mau baca Al-Qur’an, dan yang kedua tidak mau belajar baca Al-Qur’an dengan benar. Karena belajar baca Al Qur’an juga mendapatkan pahala.
Dan belajar tajwid bukan sekedar pilihan tambahan, tetapi KEWAJIBAN. Agar bacaan kita terhindar dari LAHN.

Mari kita bersemangat dalam untuk memperbaiki bacaan Al Qur’an kita.

Leave a Reply