“AYO GEMAR 3M”
Karya Annies Arbiana Ikhwati.
Wali dari Luqman Janapriya
Terinspirasi dari AYO MENULIS, ABADIKAN DIRIMU. “Karena tulisan yang baik tak hanya dibaca hari ini, tetapi juga menginspirasi di kemudian hari”, membuat saya ingin menuangkan gagasan tentang “ayo gemar 3 M” yang bisa dijadikan slogan atau jargon di lingkungan pondok modern Darul Hikmah Tulung agung.
Kita sudah sering mendengar dan membaca slogan 3 S dimana mana. 3 S yaitu Senyum tulus, Sapa ramah dan Salam hangat. Biasanya kita melihat jargon atau slogan ini di lingkungan sekolah, rumah sakit, dan di pelayanan publik/ kantor. Ada juga slogan 3 M untuk mencegah peningkatan penyakit demam berdarah, yaitu Menguras tempat penampungan air, Menutup tempat penampungan air, dan Mengubur barang bekas.
Slogan yang bisa dicanangkan di pondok modern Darul Hikmah “ayo gemar 3 M” berbeda dengan 3 M yang di atas. 3 M yang saya maksud adalah Membaca, Menulis dan Menghafal. Gerakan ini bisa digencarkan mulai dari sekarang, ” Ayo Gemar 3 M, Membaca, Menulis dan Menghafal”. Banyak manfaat positif dari pencanangan gerakan “Ayo Gemar 3 M”.
Dalam buku “para pencari ilmu” yang ditulis oleh Fuad Abdurrahman, terdapat kisah 9 ulama Islam terkemuka, yakni Imam Hanafi, Imam Malik, Imam As Syafi’i, Imam Hanbali, Imam Al Bukhori, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam An Nasa’i dan Imam Al Ghazali. Para tokoh Islam yang hingga sekarang namanya tetap harum, karena beliau meninggalkan warisan berupa ilmu yang terekam dalam karya tulis beliau. Beliau berhasil karena hasil kerja keras dalam menuntut ilmu.
Imam Hanafi memiliki nama asli Nu’man bin Tsabit. Dikenal dengan sebutan Imam Hanafi karena beliau erat berteman dengan “tinta”. Kemanapun beliau pergi selalu membawa tinta untuk menulis pelajaran yang diperoleh dari gurunya. Kata “Hanifah” dalam bahasa Irak berarti tinta.
Imam Malik mempunyai kebiasaan unik ketika belajar. Setiap belajar ilmu hadist, beliau tidak lupa membawa benang yang sudah dipotong potong. Setiap mendengar satu hadits dari gurunya, benang itu diikatkannya satu persatu. Kemudian di sore hari beliau mengulang membacakan hadits hadits itu sambil menghitung jumlah ikatan benang yang tadi dibawa. Imam Malik menyusun kitab hadis bernama Al Muwatha, dan hingga kini kitab ini terkenal sampai sekarang dan masih dipakai oleh umat Islam.
Imam Syafii, bernama asli Muhammad bin Idris As Syafi’i. Di masa kecilnya hidup dalam kemiskinan. Sehingga kesulitan untuk membeli buku. Beliau tidak berputus asa dalam belajar. Imam Syafii mencari tulang kering, kulit binatang dan kertas bekas untuk mencatat semua pelajaran dari gurunya. Karena semakin banyak, akhirnya beliau menghafal semua pelajaran yang dicatatnya. Sehingga meskipun kumpulan tulang, kulit dibuang, beliau tidak kehilangan ilmu, karena sudah masuk dalam ingatan hafalan beliau. Beliau belajar ke Madinah kepada Imam Malik. Imam Syafii menghabiskan waktunya untuk mengajar dan mengarang buku. Tak kurang dari 113 judul buku yang beliau tulis. Yang terkenal hingga sekarang adalah buku yang berjudul Al Um, Ar Risalah dan Diwan As Syafi’i.
Imam Hanbali sangat cinta terhadap ilmu pengetahuan. Beliau rela mengembara ke pelbagai kota. Beliau selalu membawa tempat tinta untuk menulis pelajaran yang diperolehnya. Usai pelajaran ditulis, Imam Hanbali selalu menghafalnya. Beliau menulis hadis sehak usia 16 tahun hingga berusia lanjut. Beliau menulis ulang hadis dalam sebuah kitab yang diberi nama Al Musnad
Muhammad bin Ismail, lebih dikenal dengan istilah sebutan Imam Al Bukhori, menyimpan pelajaran yang diperoleh dari gurunya dalam hafalan. Imam Bukhari ketika gurunya membacakan satu ayat atau hadis, beliau langsung bisa menghafalnya dan mengulangi lagi bacaannya. Beliau telah hafal 100.000 hadia sahih, dan 200.000 hadis yang tidak sahih. Beliau kemudian menyusun kitab hadisnya yaitu Al Jamius Shahih, yang kini lebih dikenal dengan kitab Shahih Al Bukhori.
Tulisan di atas menceritakan tentang beberapa ulama Islam terkemuka, yang karena kerajinannya membaca, menulis dan menghafal, menjadikan beliau menjadi ahli ilmu yang terkenal hingga sekarang.
Lantas kenapa harus digalakkan “ayo gemar 3 M” di lingkungan pondok modern Darul Hikmah??
Karena membaca, menulis dan menghafal adalah jalan utama untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, pemahaman yang mendalam (literasi) dan keterampilan intelektual. Ketiga aktivitas ini saling melengkapi.
MEMBACA; membuka jendela wawasan dan informasi.
MENULIS; membantu merekam, merapikan dan memperkuat ingatan, dan menuangkan gagasan.
MENGHAFAL; mengasah daya ingat, mempermudah pemahaman, penyimpanan jangka panjang, melatih kedisiplinan belajar, dan menginternalisasi dan menguasai informasi agar mudah dipraktekkan.
Hadis riwayat At Tabrani dan Al Hakim menerangkan “ikatlah ilmu dengan tulisan”.
Yuk mulai sekarang kita sukseskan gerakan AYO GEMAR 3 M, MEMBACA, MENULIS, MENGHAFAL ”
Jadikan ilmu sebagai cahaya, adab sebagai identitas, dan jadikan diri sebagai penerus dakwah Rasulullah Muhammad Saw.
