“KENAPA BELUM TERBIASA ?”
Karya Annies Arbiana Ikhwati
Wali dari Luqman Janapriya
Amazing! Satu kata yang bisa kuungkapkan setelah tahu salah satu keutamaannya. Pembaca, ingin tahu tidak, apakah itu?
Kemarin lusa, saya membaca buku Nashaihul ‘Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani yang baru beberapa minggu saya beli di bazar buku di Kota Tahu Kuning. Di halaman 75, dituliskan tentang tiga cara menambah daya ingat. Ali bin Abi Thalib r.a. mengatakan, “Ada tiga hal yang dapat memperkuat hafalan dan membersihkan dahak, yaitu: (1) siwak, (2) puasa, dan (3) membaca Al-Qur’an.”
Masyaallah, siwak terletak di urutan kesatu dari tiga hal yang dapat memperkuat hafalan. Hal itu menandakan bahwa siwak mempunyai banyak keistimewaan. Saya kemudian mencari pembahasan selanjutnya tentang siwak.
Rasulullah saw. bersabda, “Hendaklah kalian bersiwak, karena dalam bersiwak tersimpan sepuluh perkara terpuji, yaitu:
1. Membersihkan mulut.
2. Menyebabkan Allah rida.
3. Menyebabkan setan marah.
4. Dicintai oleh Allah Yang Maha Pengasih dan para malaikat pencatat amal.
5. Menguatkan gusi.
6. Menghilangkan liur.
7. Menyegarkan napas.
8. Membersihkan kotoran dalam tubuh.
9. Mempertajam penglihatan.
10. Menghilangkan bau mulut.”
Dalam hadis riwayat An-Nasai dan dibenarkan oleh Al-Albani, Rasulullah saw. bersabda, “Siwak itu membersihkan mulut dan membuat Allah rida.”
Aisyah r.a. menceritakan, sebagaimana tercantum dalam Shahih Muslim, bahwa, “Setiap kali beliau (Rasulullah saw.) memasuki rumah, beliau mendahului dengan bersiwak hingga sunah tersebut terlaksana dengan benar. Begitu juga pada saat membaca Al-Qur’an, tatkala bau mulut berubah, bangun dari tidur, serta akan wudu dan salat.”
Siwak merupakan alat pembersih gigi yang diwariskan Rasulullah kepada umatnya. Siwak memiliki banyak sisi positif, baik dalam bidang agama, sosial, maupun kesehatan.
Siwak atau miswak merupakan batang, akar, atau ranting pohon arak (Salvadora persica). Kandungan kimiawi dari pohon siwak, di antaranya asam antibakteri (antibacterial acids), trimetilamina, dan vitamin C, membantu penyembuhan serta perbaikan jaringan gusi. Selain itu, klorida bermanfaat untuk menghilangkan noda gigi, silika berfungsi sebagai penggosok, sulfur memiliki rasa hangat dan bau yang khas, sedangkan fluorida mencegah terjadinya karies gigi.
Lantas, muncul pertanyaan untuk diri pribadi, “Kenapa belum terbiasa bersiwak hingga sekarang? Kenapa dari zaman dahulu tidak dibiasakan bersiwak sejak dini?”
Apakah karena kurangnya informasi, belum membudaya, ataukah karena zaman dahulu tidak ditemukan kayu siwak di Indonesia?
Berdasarkan tulisan di atas, seandainya di pondok-pondok pesantren dibudayakan bersiwak di setiap kegiatan sunah, mungkin lama-kelamaan akhirnya siapa pun, di mana pun, dan kapan pun akan semakin banyak umat Islam yang terbiasa bersiwak. Pada akhirnya, semua keluarga santri pun ikut terbiasa untuk bersiwak.
