“ADA YANG LEBIH CAPEK”
Karya Annies Arbiana Ikhwati
Wali dari Luqman Janapriya
“Reza, kamu kenapa?” Tanya ustadz kepada reza yang berselimut, tidur dikamar pondok, padahal saatnya sekolah.
“Maridh, ustadz” reza menjawab pertanyaan ustadz, dengan suara yang pura pura lemah.
Ketika ustadz keluar dari kamar, teman reza yang satu kamar menegur reza, “yatamarodh lagi, yatamarodh lagi”.
“Kenapa kamu tidak terima?” Jawab Reza menimpali perkataan temannya.
“Aku hanya mengingatkan kamu Reza, kita sama-sama berjuang tholabul ilmi, karena orang tua kita menginginkan yang terbaik untuk kita. Kita harus berjuang keras, belajar dengan rajin, melawan rasa malas, melawan rasa tidak nyaman, melawan rasa kantuk. Kita jangan menuruti nafsu kita yang dikendalikan oleh setan. Karena orang tua kita dirumah juga berjuang mencari maisyah demi kita bisa belajar di pondok. Orang tua kita LEBIH CAPEK, daripada kita. Jadi, ayo semangat untuk lebih giat belajar. Ingat mulai tanggal 5 sampai 17 September kita ujian tengah semester. Orang tua kita tidak mengharuskan kita juara satu ataupun dua, tapi orang tua kita menginginkan kita Istiqomah tholabul ilmi untuk menggapai ridho Allah SWT” panjang lebar temannya memberikan motivasi dan kekuatan pada Reza.
Pembaca, itu tadi adalah sebagian dari video dari santri ngrowo. Yang dipersembahkan untuk menyambut ujian tengah semester di pondok modern Darul Hikmah Tawangsari Tulung agung. Pembaca pasti sudah tahu apa arti maridh dan yatamarodh. Kalau saya tahunya, setelah lihat video anak anak santri. Penasaran , baru bertanya pada mbah gugel.
Maridh artinya sakit
Sedangkan yatamarodh artinya pura pura sakit.
Benar sekali yang dikatakan teman Reza. “Orang tua kita pura pura sehat buat bisa bekerja”.
ADA YANG LEBIH CAPEK, dari capeknya para santri yang sedang belajar. Ada orang tua yang rela berpanas-panas ria di sawah, gejik jagung, kocor jagung dengan menggendong ransel air berisi pupuk. Menggendong tangki untuk ngobat, bahkan berangkat pagi pulang sore, mengairi sawah, bahkan terkadang hingga malam.
Ada orang tua yang capek mencari rumput, untuk sapi perahnya, belum ngepuh susu, membersihkan kandang dari kotoran sapi. Ada yang memikul kayu, karena ikut orang di penjualan kayu. Ada yang perih mata, perih tangan terkena muncraran minyak panas, karena jualan nasi. Ada yang capek, menyurung gerobak, karena jualan keliling. Dan banyak orang tua lain yang lebih capek, namun rela dan ikhlas demi sang buah hati yang sedang tholabul ilmi.
Saat kamu merasa ingin menyerah, ingatlah wajah lelah ibumu, dan pundak tegang ayahmu. Mereka belum menyerah untukmu.
Anakku, kita sama sama berjuang. Kami berjuang mencari maisyah, kamu berjuang untuk lebih giat belajar, melawan rasa malas, melawan rasa kantuk, melawan rasa tidak nyaman .
Kami dirumah selalu mendoakan untuk kalian.
Ya Allah, mudahkan dan lancarkan anak kami dan seluruh santri dalam menghadapi ujian tengah semester. Jadikan ilmunya bermanfaat dan barokah dunia akhirat. Jangan lupa, awali dengan doa, jalani dengan ihtiyar, dan akhiri dengan tawakal.
Robbi zidni ‘ilma (ya Allah, tambahkan ilmu)
Allahumma inni asaluka ‘ilman naafi’an, warizqon thoyyiban, wa’amalan mutaqobbalan.
