AUTHORITATIVE PARENTING
“Dik, salim, bapak ajeng bidal yasinan rutinan RT Sabtu pahingan, selak dalu, gek ndak bidal nggih” pesan suami kepada si ragil sebelum berangkat yasinan.
Si sulung dan si ragil sama sama persiapan berangkat ke pondok. Tas jajan sudah disiapkan diatas motor bagian depan. Ransel si sulung dipasang di dada, ransel si ragil dipunggungnya. Siap berangkat?????
Si ragil diam , duduk diatas meja. Dengan tatapan sendu, kosong dan tidak ada semangat. Kakaknya telaten merayu adiknya ngajak berangkat. Setengah jam berlalu, segala bujuk rayu disenandungkan. Namun…
Brak, brak, brak…aku emosi. Kuambil tas jajan dari motor, kurebut tas ransel dari punggung adik. Tidak berhasil. Kuberlari kekamar mandi, mendinginkan kepala yang sudah mulai mbuleng, kemeluk, kemedul, berasap. Kutumpahkan semua kesedihan.
Aku keluar dari kamar mandi. Aku menangis, siragil menangis.
Kubawa siragil masuk kamar.
” Dik, coba cerita, kemarin ibuk sudah memberi nasehat dengan surah Luqman. Kenapa sekarang mau berangkat ke pondok masih rewel?” Tanyaku.
” Mengke Kula cerita, jenengan mesti mboten percaya” kata si ragil. “Mas, mas, sinio le, ndang” panggilku pada si sulung.
Adik bercerita kepada kami berdua. Setelah bercerita, kami berdua memberi nasehat, bahwa semua ini harus dihadapi, bukan dihindari. Karena jauh kedepan nanti, persoalan bakal lebih beragam, lebih rumit. Kita harus belajar menghadapi masalah.
Selepas kami berdua menasehati, adik belum mau diajak berangkat.
Satu jam berlalu.. bapaknya datang. Ganti memberikan masukan, nasehat. Intinya tetap satu, adik tetap harus berangkat ke pondok. Mundur 2 jam dari rencana awal berangkat, namun Alhamdulillah mau berangkat, meskipun ada sandiwara.
Pembaca, maaf karena ketidak punyaan sumber buku, jadi harus ditanyakan pada si mbah.
Ada empat jenis pola asuh /parenting utama menurut Diana Baumrind, yaitu;
1. Authoritative parenting/otoritatif/berwibawa. Yaitu menetapkan aturan tegas namun penuh kasih sayang, komunikatif dan responsif terhadap kebutuhan anak.
2. Authoritarian parenting / otoriter. Yaitu sangat ketat, menuntut kepatuhan mutlak, minim diskusi, menggunakan aturan kaku/ komunikasi satu arah.
3. Permissive parenting/ memanjakan anak. Yaitu sangat sayang anak, minim batas dan aturan, dan menuruti semua keinginan anak.
4. Neglectful / uninvolved parenting/ abai/ tidak terlibat. Yaitu orangtua cuek,kurang terlibat dalam kehidupan anak, dan tidak menetapkan batasan atau aturan.
Sebagai orangtua kami berdua belajar menggunakan pola authoritative parenting. Karena dalam pola ini, biasanya anak cenderung mandiri, memiliki percaya diri tinggi, dan mampu bersosialisasi dengan baik. Kami belajar memenuhi kebutuhan dan keinginan anak, tetapi kami juga punya aturan yang harus diikuti anak. Menghadapi tantangan jaman, anak harus belajar Istiqomah tholabul ilmi di pondok. Itu prinsip dari kami. Beberapa waktu lalu kami juga bertanya, apakah kami termasuk orang tua yang kejam, otoriter bila memaksakan anak untuk tetap dipondok. Alhamdulillah, jawaban menenangkan bagi kami.
Yaitu…
“Di dalam kitab tarbiyyah yg dipelajari di Darul Hikmah, ada beberapa pembagian masa pendidikan anak, di antaranya masa balita, kanak-kanak, remaja, dewasa. Yang masing-masing memiliki cara tertentu dalam memberikan pelajaran khususnya agama yg dalam hal ini sholat.
Di kitab tersebut menganjurkan orang tua memaksa anak untuk mendirikan sholat saat anak sudah memasuki masa baligh bahkan diperbolehkan melakukan pemukulan.
Maka kalau kita nisbatkan, pendidikan anak ada beberapa tahap. di masa remaja, anak harus diarahkan kepada hal baik walau dalam bentuk paksaan. Baru ketika mereka menginjak usia dewasa, bisa diajak ngobrol atau dimintai pendapat agar merasa dihargai. Tapi ketika remaja harus dipaksakan, jika tidak biasanya mereka akan mengamini sesuatu yg merurut mereka enak dan bermanfaat bagi mereka saja, tanpa melihat jauh ke depan.”
Semoga niat baik kami memasukkan anak kedalam pondok, senantiasa mendapatkan keberkahan dan limpahan ridho Allah SWT.
