HUKUMAN

HUKUMAN
Karya: Wali santri Luqman Janapria santri kelas 2

” Assalamualaikum”
” Buk kula wasul nggih?”
Pesan dari siragil masuk di wa.
” Dereng enten 10 hari wonten pondok kok sampun geger” balasku.

Besoknya lagi ada wa masuk.
“Buk, sikilku kenging mata ikan, sakit”
“Pean obati riyen ta le”
“Sampun, Kula pun diparingi obat oles saking rencang”
“Dirantos riyen, mboten usah geger wasul”.

Besoknya lagi
“Buk, didameli sepatu suakit lho buk. Berobat nggih”
“Ibuk mboten wantun memberikan keputusan le, bapak tasik mendel”. Jawabku sambil mengulurkan waktu agar siragil tidak terus menerus minta pulang untuk berobat.

Namun akhirnya, pertahanan bapaknya luluh juga. Akhirnya hari itu Senin sore kami menjemput si ragil.
“Mohon diantarkan kembali ke pondok hari Rabu jam lima sore nggih bu” ustadz pengasuhan memberikan ijin.
“Inggih ustadz”.
Selasa pagi, si ragil diantar bapaknya ke dokter. Memeriksakan kaki. Semoga lekas sembuh.
Rabu pagi. “Dik, ayo belanja, apa butuhe sampean sing mengke sore di beta” ujar bapaknya kepada si ragil. Pokoknya setiap akan masuk pondok atau waktunya sambangan kami menjadi seorang yang kaya raya. Apapun permintaan anak dikabulkan, sebagai penyemangat agar anak senang di pondok.
Susu, jajan, sabun mandi cair, sabun muka, dan total menghabiskan pria berkopyah 2 lembar warna merah.
Sore seharusnya berangkat. Si ragil tertidur. Akhirnya berangkat melebihi jam yang ditentukan. Bakda magrib, kami bertiga berangkat.
“Dik, tumbas maem teng waris, sampean pilih lawuh sing sampean senengi” kata bapaknya menyenangkan hati si ragil agar semakin bersemangat tholabul ilmi di pondok.
Bertiga makan dengan menu berbeda. Sehabis makan, lanjut sholat isya sebelum sampai dipondok.
Mendekati Setengah sembilan malam kami sampai di depan pondok, siragil kami minta turun. Tidak mau turun.
Karena parkir sulit, pindah di depan asrama kesehatan, kami minta turun, tidak mau turun juga.
Pindah lokasi, ke barat masjid tua. Segala negoisasi, segala nasehat kami berikan, si ragil tidak mau turun juga.
Anda tahu, seperti apa kami? Seperti udang rebus. Muka kami terasa panas, hati panas, kepala panas. Andaikan di dalam film pasti seperti tokoh angry bird… Muka warna merah, telinga berasap, gigi keluar seringai namun masih kelihatan imut.
Didalam mobil, kami bertiga semua dalam posisi diam. Sebagai seorang ibuk, menurut pendidikan, meskipun marah, jangan sampai mengeluarkan kata-kata jelek, sumpah serapah. Jadi meskipun kepala panas, hati menyala namun lantunan doa yang selalu dilafalkan. Robbi habli minash sholihin. Itu yang terus dibisikkan selama perjalanan Tulung agung Lodoyo.
Jam 10 malam kami sampai rumah. Tidak kuberikan HUKUMAN untuk si ragil dengan pukulan, dengan jeweran, dengan cethotan. Bukan HUKUMAN itu yang saya berikan.
” Adik, ayo teng jeding” si ragil berjalan mengikutiku ke kamar mandi. Aku menunggu di depan kamar mandi.
” Wudhu”. Perintahku pada si ragil. Si ragil menjalankan perintahku
“Ulangi lagi wudhunyaa”
“Wudhu lagi”
Kuperintahkan wudhu hingga sebelas atau tiga belas kali. Itu salah satu cara meluapkan emosi yang meledak-ledak.
“Sekarang masuk, ambil Al Qur’an terjemah, baca surah Luqman beserta terjemahannya” perintahku pada si ragil. Si ragil membaca surah Luqman beserta terjemahan.
Kuambilkan Al Qur’an terjemah yang satunya yang rosm usmani. “Baca lagi”
Ayat per ayat dilantunkan. Jika ada ayat yang butuh penjelasan, ku jelaskan pada si ragil .
“Le, tahu kenapa kamu harus tetap di pondok?”. Si ragil menggunakan mode diam. “Karena cinta kami padamu. Sekarang jaman semakin tidak karuan. Kamu perlu bekal untuk masa depanmu, Bekal untuk alam kuburmu, bekal untuk alam barzah, bekal untuk akhirat” penjelasan dari kami.
HUKUMAN malam ini adalah dengan berkali kali wudhu dan membaca Alquran surah Luqman dua kali.
Menjelang dini hari, ketika tertidur, si ragil menjerit, “buk, ibuk”
Ternyata karena kaget listrik mati semua gelap.
Pagi sehabis subuh segala macam ceramah, orasi kutampilkan.
“Allah menunjukkan langsung nggene sampean le. Listrik mati, kabeh peteng, sampean wedi. Lha terus lek sampean emoh mondok, apa sing dingge sampean sangu sok?nek kuburan dewe, luwih peteng malih.”

Semoga dengan penjelasan yang kami berikan, dibukakan hati dan pikiran anak kami. Mau menerima dan mau memahami keinginan kami untuk tholabul ilmi di pondok. Semoga Allah mengabulkan doa kami untuk kebaikan anak anak kami.

Leave a Reply