KARTINI SEMAKIN HILANG
(Refleksi di Hari Kartini)
Oleh Muhammad Khafid Zulfahmi Zein
Setiap tanggal 21 April, kita sudah bisa menebak. Akan banyak anak-anak sekolah mengenakan kebaya, banyak lembaga pendidikan mengadakan lomba, media sosial dipenuhi ucapan “Selamat Hari Kartini”, lengkap dengan kutipan inspiratif dan quote “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Nama Raden Ajeng Kartini kembali terdengar nyaring di telinga kita, dan membanjiri diskusi di kursi akademik. Memang begitulah cara kerja How To Viral, dengan membahas sesuatu yang sesuai momentum, atau membuat momentum yang sesuai dengan apa yang terjadi dan disukai banyak orang.
Bagi banyak orang, Kartini adalah simbol kekaguman. Ia dikenang sebagai perempuan hebat yang memperjuangkan pendidikan dan membuka jalan bagi kaumnya. Itu benar. Tetapi, jika berhenti di sana, mungkin kita hanya melihat permukaannya saja.
Kita hanya close-up di satu point saja, tentang karya monumentalnya Kartini, tanpa melihat overview bagaimana ia mampu melakukan itu. Ini sama halnya dengan nasehat guru saya “Banyak manusia yang kagum dengan pencapaian seseorang dan ingin mendapatkan hal serupa. Namun ia tidak siap menjalani proses yang sama.
Coba kita lihat Kartini dari sudut lain, kita akan tau bahwa Kartini bukan sekadar tokoh untuk dikagumi. Ia adalah sosok yang peka terhadap sosial masyarakat, gelisah dengan keterbatasan, dan gelisah dalam mencari makna hidup.
Dan yang menarik, kegelisahan itu tidak hanya diarahkan pada persoalan sosial, tetapi juga pada pencarian spiritual.
Esai ini tidak bermaksud mengajak kembali ke masa lalu, atau membandingkan siapa yang lebih baik. Tetapi sekadar mengingatkan, bahwa Kartini yang kita kenal hari ini mungkin hanya sebagian kecil dari dirinya yang utuh.
Ia bukan hanya simbol kebaya.
Ia bukan hanya kutipan-kutipan yang diulang setiap tahun.
Ia juga seorang pembelajar yang tekun, yang mencari, yang tidak puas dengan jawaban yang dangkal.
Dalam perjalanan hidupnya, Kartini tidak asing dengan dunia pesantren. Ia belajar membaca Al-Qur’an, berinteraksi dengan ulama, dan memperdalam pemahaman agama. Salah satu sosok penting yang membantunya memahami Islam lebih dalam adalah Kiai Sholeh Darat. Sosok Kiai karismatik yang juga merupakan Ulama’ tersohor di Indonesia.
Dari beliaulah Kartini mulai mengenal makna Al-Qur’an tidak hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai petunjuk hidup. Ini menjadi titik penting. Karena dari sinilah kita bisa melihat bahwa Kartini tidak hanya ingin “bebas”, bebas dari belenggu penjajahan dan politik pendidikan kolonial, tetapi ia ingin memahami, memahami dirinya, agamanya, dan realitas di sekitarnya.
Sayangnya, sisi ini jarang sekali dibicarakan. Karena manusia lebih suka kemeriahan, dari pada esensi atas suatu hal. Kartini sering dipotret sebagai simbol emansipasi dalam arti yang sempit, tokoh feminism. Seolah perjuangannya hanya tentang keluar dari tradisi. Padahal, jika kita melihat lebih dalam, ia justru sedang berdialog dengan tradisi. Ia tidak menolak semuanya, tetapi juga tidak menerimanya secara mentah.
Ia bertanya. Ia belajar. Ia mengaji. Ia berdiri. Ia terdidik. Ia faham agama. Dan ia menulis.
Di titik ini, kita mungkin perlu berhenti sejenak.
Karena jika dibandingkan dengan hari ini, ruang yang dimiliki perempuan sebenarnya jauh lebih luas. Pendidikan terbuka, akses informasi tanpa batas, kesempatan berkembang semakin banyak.
Tidak sedikit yang akhirnya merasa lelah, tertekan, atau bahkan kehilangan arah. Standar hidup semakin tinggi, ekspektasi sosial semakin kompleks, dan tanpa sadar, banyak yang justru terjebak dalam “penilaian orang lain” dan “viralitas dunia maya”.
Di sinilah Kartini menjadi relevan, bukan karena ia harus ditiru secara persis, tetapi karena cara ia menjalani prosesnya.
Ia tidak berhenti pada apa yang tersedia di sekitarnya. Ia mencari. Ia mendalami. Ia meluangkan waktu untuk membaca, menulis, dan mengaji. Ia tidak hanya ingin terlihat “baik”, tetapi ingin benar-benar memahami dengan “baik”.
Barangkali, di tengah kehidupan hari ini yang serba cepat, kebiasaan seperti itu mulai jarang kita temui. Kita mudah mengakses banyak hal, tetapi jarang mendalami. Kita cepat mengetahui, tetapi belum tentu memahami. Kita sering tampil, tetapi jarang benar-benar mengenal diri sendiri.
Maka, Hari Kartini sebenarnya bisa menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ini bisa menjadi refleksi bagi kita, khususnya bagi perempuan di Indonesia. Sambal bertanya pelan kepada diri kita;
Sudahkah kita menggunakan kesempatan yang ada untuk benar-benar belajar?
Masihkah kita memberi ruang dalam hidup ini untuk agama yang cukup?
Apakah kita adalah wujud dari tulisan Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang?
Terang yang bagaimana yang dimaksud beliau? Apakah terang dengan arti kebebasan dan kesetaraan tanpa batas?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak butuh jawaban cepat. Ia hanya butuh kejujuran.
Kartini dalam prosesnya sangat erat dengan guru dan orang tuanya, ia tidak meninggalkan kewajiban sebagai anak maupun sebagai manusia yang memiliki hak. Kartini tidak pernah hidup di zaman kita. Tetapi kegelisahannya terasa sangat dekat.
Tidak perlu cepat, semua butuh proses. Tidak perlu harus sesuai dengan angan-angan, karena Tuhan lebih tau apa yang semestinya kita dapatkan. Tidak perlu ikut-ikutan, karena belum tentu hal baik untuk orang lain, juga baik untuk kita. Namun kita butuh sandaran yang tepat, bersandar kepada Dzat yang tidak pernah menyia-nyiakan perjuangan hamba-Nya.
Dan bisa jadi, cara terbaik untuk mengenang Kartini bukan dengan memperbanyak seremonial, melainkan dengan melanjutkan semangatnya dalam bentuk yang sederhana: belajar dengan sungguh-sungguh, mengaji dengan kesadaran, dan berani bertanya tentang makna hidup kita sendiri. Karena mungkin, di situlah Kartini benar-benar hidup, bukan di panggung perayaan, tetapi di dalam proses yang diam-diam membentuk diri kita.
