RAMADAN AKU KEMBALI

Ramadan Aku Kembali

Karya Muhammad Khafid Zulfahmi Zein

Akhir-akhir ini aku lebih sering berhenti di tengah jalan. Bukan berhenti karena lelah fisik, tapi karena batin seperti minta jeda. Banyak hal berjalan, tapi rasanya tidak benar-benar sampai. Banyak rencana tersusun rapi, tapi tak semuanya ingin dijalani dengan penuh ambisi seperti dulu.

Menulis pun begitu. Kata-kata ada, tapi enggan berbaris. Pikiran ramai, namun hati meminta sunyi. Di titik itu, aku mulai bertanya, jangan-jangan bukan dunia yang terlalu cepat, tapi aku yang terlalu sering memaksa diri untuk selalu siap. Atau seperti biasa, harapan yang acap kali tidak sesuai realita.

Dulu, setiap kejadian dalam hidup buru-buru aku carikan frasa yang tepat untuk sebuah ungkapan. Kadang berbentuk puisi, kadang narasi, kadang juga caption yang tidak jelas arahnya kemana. Namun selalu ingin segera ku jadikan sebuah paragraf. Padahal, ada fase-fase yang memang tidak ingin dijelaskan, hanya ingin berkomentar saja.

Di situlah aku pelan-pelan belajar menulis sumeleh, menulis apapun yang ku mau tanpa ada retorika tertentu. Sumeleh adalah berdamai dengan ritme. Mengakui bahwa ada hari-hari di mana kita tidak perlu menang apa-apa. Cukup hadir, cukup bernapas, cukup tidak menambah beban pada diri sendiri.

Aku mulai membiarkan beberapa hal tidak selesai hari ini. Membiarkan diam menjadi bagian dari proses. Membiarkan diri sendiri tidak selalu punya jawaban. Anehnya, justru di situ ada kelegaan kecil yang lama tak mampir.

Lalu, Ramadan datang.
Bukan dengan flayer dan pamflet, bukan dengan daftar panjang menu. Ia datang seperti tamu lama yang tahu persis keadaan tuan rumahnya. Tidak banyak bertanya, tidak menuntut jamuan mewah. Cukup mengetuk, lalu duduk.

Ramadan selalu begitu. Ia tidak memaksa kita menjadi suci seketika. Ia hanya membuka ruang. Ruang untuk memperlambat. Ruang untuk mengurangi. Ruang untuk mengingat kembali apa yang sering tercecer ketika hidup terlalu penuh.

Seperti halnya yang disampaikan Abah Yai saat tarawih pertama semalam. Beliau dawuh bahwa ada 3 proses yang harus kita lakukan di ramadhan ini selain dari rutinitas ibadah yang sudah kita ketahui. Pertama tazkiyatun nafs atau mensucikan diri, tazkiyatu ruuh atau mensucikan jiwa, dan yg terpenting adalah ta’diibu aql atau belajar untuk mendidik diri sendiri agar dapat berpikir dengan baik.

Puasa, pada titik tertentu, bukan soal menahan lapar dan dahaga. Ia latihan melepas. Melepas keinginan untuk selalu lebih. Melepas kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Melepas tuntutan agar hidup selalu tampak baik-baik saja.

Ramadan seolah berkata pelan:
“Tidak apa-apa kalau kamu lelah. Tidak apa-apa kalau kamu pelan. Yang penting, kamu mau kembali.”

Dan mungkin, di situlah letak keindahannya. Ramadan tidak menghapus masalah. Ia hanya mengubah cara kita memandangnya. Dari ingin menguasai, menjadi mau menerima. Dari ingin segera sampai, menjadi rela menikmati jalan.

Sebagaimana tulisan kali ini, tidak ada judul, tidak ada tema pasti, tidak ada tuntutan dan tidak ada arah. Aku menulis hal yang tiba-tiba muncul di kepala, juga mencoba untuk mengaktifkan kembali memori kepenulisan yang beberapa bukan terakhir tertimbun rutinitas.

Menulis dengan sumeleh barang kali adalah cara ku mencatat hal hal yang berlalu di pikiran begitu saja, memang ada yang harus melewati suatu proses agar muncul ide. Tapi bukankah setiap hari kita adalah proses untuk menuju kembali.

Sebagaimana ramadhan yang tidak menuntut kita harus sempurna tanpa cacat, ia menawarkan proses yang panjang dan diulang-ulang. Bahkan buktinya tahun ini ramadhan masih memberikan kita kesempatan untuk mengulang proses tersebut.

Atau barangkali, itulah cara paling jujur menyambut Ramadan, bukan dengan ambisi menjadi sempurna, tapi dengan niat untuk pulang apa adanya.

Leave a Reply